Penulis
: KH. Mustofa Bisri
Dalam menjalani
kehidupan, berbagai peran telah dijalankan oleh manusia tergantung dengan peran
yang ia jalani, baik peran dalam kehidupan berkeagamaan, kehidupan
berorganisasi, kehidupan kehidupan sosial, kehidupan politik dan lain
sebagainya. Namun, sebenarnya kesemuanya itu sebenarnya sangat berkaitan dimana
ujung pangkalnya berada pada kehidupan agama seseorang dalam hal ini adalah
Agama Islam, karena dalam Islam semua bidang kehidupan telah diatur.
Namun semakin lama
realitas kehidupan ini semakin jauh dengan apa yang disyari’atkan dalam Islam.
Sebagai contoh ketika melihat realitas politik di negeri ini, banyak
pihak-pihak yang saling memperebutkan jabatan-jabatan politik tanpa
memperhatikan kapasitas yang dimilikinya sebagai pemimpin, sehingga tidak heran
apabila banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang. Gus Mus sapaan
dari KH. Mustofa Bisri mengungkapkan bahwa neraka disediakan bagi seseorang
yang mengetahui kapasitasnya sebagai pemimpin namun ia menghindari dari posisi
sebagai pemimpin, kedua bagi seseorang yang tetap nekat meraih dan
mempertahankan jabatan sebagai pemimpin padahal ia sendiri mengetahui bahwa
banyak orang-orang yang lebih berpotensi kapasitasnya untuk memimpin. Gus Mus
dalam beberapa tulisannya seringkali memberikan kritikan terhadap para
pemimpin-pemimpin di negeri ini yang seringkali dianggap tidak berkompeten
dalam menjalankan kepemimpinannya. Banyaknya perbedaan kepentingan menimbulkan
banyak terjadi konflik dikalangan pejabat-pejabat pemerintahan, kemudian yang
terjadi adalah kesibukan dalam mencapai kepentingan-kepentingan tersebut dan
melupakan tanggungjawab terhadap rakyatnya atau dalam istilah politik disebut
sebagai konstituen yang dipimpin.
Sangat kontras apabila dibandingkan
dengan masa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, dimana dalam rangka
mendirikan Negara Islam, SDM yang dimiliki harus benar-benar dipersiapkan atau
biasanya sebelum masuk Islam para sahabat telah memiliki keahlian sebagai
pemimpin dan dapat dijadikan sebagai pemimpin dari kaumnya yang telah memeluk
Agama Islam. Salah satu sahabat yang berasal dari Yatsrib yang sekarang mejadi
Kota Madinah sebelum masuk Islam ia merupakan sudah ahli dalam persenjataan
sehingga kemampuannya tersebut dapat digunakan dalam mempersiapkan
peralatan-peralatan perang untuk memerangi kaum musyrikin pada saat itu. Pada
masa sekarang jabatan politik bahkan diberikan pada orang-orang yang dikenal
dekat dengan pemimpin dan bukan berdasarkan dari kapasitas dan kompetensinya
dalam menjalankan jabatan tersebut, sehingga dalam birokrasi muncul istilah wrong
man on the right place, padahal untuk menjalan pemerintahan yang efektif
harus menerapkan istilah right man on the right place seperti yang
pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam kepada para
sahabat.
Kondisi
tersebut diperparah dengan adanya peran media masa yang sangat berpengaruh
terhadap pembentukan opini-opini publik. Tidak sedikit media yang memberitakan
tentang pejabat di pusat maupun di daerah yang melakukan tindak pidana
penyalahgunaan anggaran yang dialihkan untuk kepentingan pribadi maupun
sekelompok orang. Dengan maraknya pemberitaan tersebut nantinya berdampak pada
krisis kepercayaan terhadap pemerintah, akan semakin memperparah kerusakan di
negeri ini. Sebenarnya jika kita melihat hakikatnya sendiri, terdapat kode etik
yang perlu untuk diterapkan dalam menyiarkan berita sehingga masyarakat dapat
menerima dampak positif dari keberadaan media itu sendiri. Terkait penyiaran berita yang dilakukan oleh media, banyak terjadi
kasus seperti pengurangan atau melebihkan konten dari peristiwa yang
diberitakan, sebagai contoh terdapat perkumpulan kyai yang sebenarnya hanya
bertujuan untuk silaturahim antar tokoh agama tersebut. Namun berbeda dengan
apa yang diberitakan oleh media bahwa perkumpulan tersebut untuk membahas
krisis yang terjadi dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Nilai jual dari berita itulah
yang kemudia menjadi prinsip yang harus dijalankan supaya menjadi keuntungan
tersendiri bagi perusahaan media tersebut tanpa memperhatikan keontetikan dari
sebuah berita
. Berbeda dengan yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi
Wassalam yang menjadi panutan seluruh umat manusia, beliau adalah sosok
terpercaya dalam menjalankan amanah serta karena kejujuran senantiasa beliau
terapkan dalam berkehidupan sosial, sehingga ia dijuluki sebagai As Shidiq dan Al Amin. Sebagai contoh pernah suatu
ketika Khadijah mendengar sosok yang bernama Muhammad yang terkenal jujur dalam segala berbagai
hal, kemudian ia pernah menitipkan barangnya kepada beliau Muhammad untuk
disampaikan kepada seseorang namun hal tersebut dilakukan dengan maksud untuk
menguji seberapa tingkat kejujurannya. Ternyata setelah itu, barang tersebut
dapat sampai kepada tujuan secara utuh tanpa berkurang dari kadar yang dimiliki
dari kadar tersebut. Terdapat banyak contoh lain yang menceritakan tentang
kejujuran beliau Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, karena memang belaiu
dipilih sebagai utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Komentar