, , , ,



    Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya membuka pendaftaran santri baru untuk angkatan 2016/2017 Gelombang II.

    Prosedur Pendaftaran
    1. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran** 
    2. Melengkapi persyaratan yang diperlukan
    3. Mengumpulkan formulir pendaftaran yang telah diisi dan persyaratan pendaftaran ke Sekretariat.
    4. Mengikuti tes seleksi (baca Al-Qur'an, baca Kitab, psikotes dan wawancara). * 
    5. Pengumuman hasil tes

    Syarat-Syarat Pendaftaran
    1. Mahasiswa Laki-laki
    2. Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB yang dilegalisir 1 lembar
    3. Menyerahkan fotokopi Nilai Ujian Nasional yang dilegalisir 1 lembar
    4. Menyerahkan fotokopi nilai rapor kelas 3 SMA semester 1 dan 2, 1 lembar
    5. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM 2 lembar
    6. Menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga 2 lembar
    7. Menyerahkan pas foto 4x6 2 lembar
    8. Menyerahkan surat pernyataan orang tua 1 lembar 

    Waktu Pendaftaran
    * 21-29 Agustus 2016

    Jadwal tes seleksi 
    Hari Senin, tanggal 29 Agustus 2016, pukul 15.30 wib
    Di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya
    **Formulir bisa diunduh di sini

    Info lebih lanjut, hubungi:
    Mas Tije (085 634 635 03), 

    Sekretariat: Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Jl. Gubeng Kertajaya 5D/22 Surabaya

    , , , , ,


    Surat Keputusan
    No: 131/YPMBH/VIII/2016

    Menimbang : 
    - Hasil tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2015/2016 yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 15 Agustus 2016.

    Memperhatikan :
    - Rapat team Penguji Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya pada hari Kamis 18 Agustus 2015.

    Memutuskan :
    1. Nama-nama yang terlampir berikut dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2016/2017

    2. Nama-nama yang terlampir berikut diharuskan melakukan konfirmasi kepada Pengurus Pesma Baitul Hikmah melalui sms ke nomor 08563463503 paling lambat tanggal 26 Agustus 2015 pukul 17.00 WIB

    format SMS:
    "Bismillahirrohmanirrohim, saya (ketik nama lengkap), dari (ketik alamat lengkap) SIAP menjadi SANTRI Pesma Baitul Hikmah Surabaya"


    Berikut nama-nama yang dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah TA. 2016/2017

    1. A. Syukron Taufiq Shidqi
    2. Muhammad Abdul Haq
    3. Sholeh Hilmi Qosim
    4. Muhammad Dai Efendi




    Surabaya, 19 Agustus 2016

    Mudir al Ma'had
    Yayasan Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Ustadz M. Masykur Ismail, S.S.


    NB: - untuk Informasi lebih lanjut hubungi contact person Panitia Penerimaan Santri Baru Pesma Baitul Hikmah TA. 2016/2017, 
    Mas Tije (08563463503)

    , , , , ,



    Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya membuka pendaftaran santri baru untuk angkatan 2016/2017.

    Prosedur Pendaftaran
    1. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran** 
    2. Melengkapi persyaratan yang diperlukan
    3. Mengumpulkan formulir pendaftaran yang telah diisi dan persyaratan pendaftaran ke Sekretariat.
    4. Mengikuti tes seleksi (baca Al-Qur'an, psikotes dan wawancara). * 
    5. Pengumuman hasil tes

    Syarat-Syarat Pendaftaran
    1. Mahasiswa Laki-laki
    2. Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB yang dilegalisir 1 lembar
    3. Menyerahkan fotokopi Nilai Ujian Nasional yang dilegalisir 1 lembar
    4. Menyerahkan fotokopi nilai rapor kelas 3 SMA semester 1 dan 2, 1 lembar
    5. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM 2 lembar
    6. Menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga 2 lembar
    7. Menyerahkan pas foto 4x6 2 lembar
    8. Menyerahkan surat pernyataan orang tua 1 lembar 

    Waktu Pendaftaran
    * 1 - 14 Agustus 2016

    Jadwal tes seleksi 
    Hari Senin, tanggal 15 Agustus 2016, pukul 15.30 wib
    Di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya
    **Formulir bisa diunduh di sini

    Info lebih lanjut, hubungi:
    Mas Tije (085 634 635 03), 

    Sekretariat: Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Jl. Gubeng Kertajaya 5D/22 Surabaya

    Hugo Chavez, Malaikat Dari Selatan
    Review buku “Hugo Chavez, malaikat dari selatan” karya Tofik Pram




                            Di dalam buku ini menceritakan biografi Hugo Chavez yang kontra terhadap Paham Liberalisme. Karena tak selamanya paham tersebut dapat menyejahterahkan rakyat. Terbukti bahwa masih adanya rakyat yang miskin akibat meluasnya paham tersebut. Selain itu juga adanya Gap antara si kaya dan si miskin yang mengakibatkan si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Oleh karena itu, Hugo Chavez yang beraliran “Kiri” tersebut ingin mengubah dari sistem dunia yang berpaham Liberalisme menjadi paham Komunis.

                Chavez seorang yang keras, vokal, dan luar biasa berprinsip. Di saat sebagian besar pemimpin dunia memilih menjadi diplomat taktis yang penuh kehati-hatian dan “main belakang”, tidak pernah ada yang ambigu dari setiap sikap dan keputusan politik Chavez—paling tidak di depan mata publik. Mungkin karakteristik itu bukan hal yang bijaksana dan entah sudah berapa kali Chavez lolos dari percobaan pembunuhan, tapi faktanya beliau berhasil terpilih sebagai pemimpin Venezuela dalam empat periode berturut-turut sebelum akhirnya dikalahkan oleh penyakit kanker yang sudah menggerogotinya sejak dua tahun terakhir (*seandainya tidak wafat, Chavez akan terus menjabat hingga tahun 2019 dalam periode kepresidenannya yang keempat).

                Hugo Chavez kecil, yang orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Kesulitan masa kecil ini menjadi bibit pemikiran Chavez dan seiring dengan kariernya selanjutnya di dunia militer, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang sosialis sejati dengan Simon Bolivar sebagai tokoh panutannya. Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin Venezuela, Chavez tidak buang-buang waktu memaparkan rencana ambisiusnya menjadikan negara itu sebagai “surga sosialis” sekaligus menyampaikan pidato-pidato kontroversial mengenai kebusukan kapitalisme dengan suaranya yang khas menggelegar. 

                Chavez tidak hanya sekedar asal cuap-cuap. Ia juga pintar menggunakan aset sumber daya minyak negaranya yang berlimpah sebagai senjata politik, sekaligus mengumpulkan sekutu-sekutu regional seperti Evo Morales (Bolivia) dan Daniel Ortega (Nikaragua). Pengaruh filosofi Chavez bukan hanya sebatas lingkup negaranya, tapi juga menyebar di seluruh kawasan Amerika Latin dan mengubah peta geopolitik benua itu selama satu dekade terakhir. Ia rajin menggalakkan program-program sosial yang revolusioner, memandu acara talk show yang diisi langsung oleh dirinya, dan sangat pintar memposisikan diri sebagai “salah satu dari rakyat.” Tak heran, ia sangat dielu-elukan oleh simpatisan di negaranya dan  sebagian kalangan di dunia internasional. 

                Namun, dunia politik tidak pernah lepas dari keabu-abuan. Di balik imejnya yang sangat populis, banyak pula kritikan pedas yang menerpa Chavez selama periode kepemimpinannya. Ia dianggap gagal menangani perekonomian Venezuela, danwalaupun tingkat pendapatan masyarakat memang meningkat selama eranya, peningkatan itu nyaris tak berarti akibat melemahnya nilai uang Venezuela sendiri. Negara ini mengalami inflasi sampai dua digit, lonjakan tingkat kriminalitas, dan terlalu bergantung pada minyak sebagai sumber pendapatan negara—hal yang akan menjadi masalah besar bila terjadi krisis harga di pasar global.     Ironisnya lagi, pada 2012 Venezuela tercatat sebagai negara Latin paling korup menurut survey tahunan International Transparency (IT). 

                Di tengah isak tangis, banyak pula yang diam-diam mensyukuri kepergian Chavez—dan sebagian di antaranya dari kalangan orang Venezuela sendiri. Bukan rahasia umum lagi bahwa Chavez tidak sungkan menekan media domestik yang berani mengkritik kebijakannya, ataupun menggunakan strategi-strategi yang  kurang elok untuk dapat terus memenangkan pemilihan. Di saat kalangan oposisi tidak ada yang berdaya menjatuhkannya, kanker yang akhirnya mengalahkan Chavez mungkin menjadi blessing in disguise bagi sebagian kalangan yang menginginkan perubahan di Venezuela. 

               Terlepas dari itu semua, kharisma dan kekuatan kepribadian Chavez telah menginspirasi sejumlah orang di dunia. Sulit untuk menemukan sumber media yang dapat benar-benar objektif menilai Chavez, dan mungkin kebenaran sebenarnya mengenai rezimnya tak akan pernah terungkap. Walau begitu, saya memilih untuk percaya bahwa idealism dan segala impiannya untuk memajukan Venezuela memang benar-benar tulus. Hugo Chavez tidak seharusnya "hanya" dikenang oleh dunia sebagai "si anti-Amerika", melainkan sebagai sosok patriot dengan segala kelebihan dan kekurangannya di tengah dunia politik yang sangat kompleks dan abu-abu.


    Reviewer : Pito Budi Prasetyo

    Penulis Review           : Moh. Saad Baruqi
    Pengarang                   : H. Imam Mu’alimin
    Tahun terbit                 : Agustus 2011
    Judul buku                  : KH. DJAZULI UTSMAN (Sang Blawong Pewaris Keluhuran)
    Kota penerbit              : Ploso Mojo Kediri
    Penerbit                       : Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri
    Tebal buku                  : 161 Halaman
               

    Mas’ud atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan KH. Djazuli Ustman adalah putra dari bapak naib dari Ploso Kediri yang bernama Mas Moh. Ustman Bin Mas Moh. Sahal. Sahal yang akrab dengan sebutan pak Naib ini memiliki kebiasaan rutin yang dilakukan sampai menjelang wafatnya. Bermula dengan bertemunya beliau dengan KH. Ma’ruf Kedunglo yang masih memiliki hubungan saudara dengannya. KH. Ma’ruf berpesan : “Ustman, apabila kamu ingin anak-anakmu kelak menjadi orang yang berilmu, beramal dan bermanfaat, rajin– rajinlah bersilaturahmi dengan para ‘alim ‘ulama. Kalau tidak anakmu, insya Alloh cucumu yang ali”. Karena saran tersebut, sudah menjadi kebiasaan rutin pak Naib menjalani rutinitas bersilaturahmi dengan para ulama mulai pagi hingga sore.

                Pak Naib dikaruniai 13 anak dengan tujuh orang putra dan 6 orang putri dari pernikahannya dengan Mas Ajeng Muntoqinah binti M. Syafi’i, KH. Djazuli Ustman adalah putra ke 7 dari ketigabelas anaknya. Sesungguhnya yang menjadi kekhawatiran pak Naib atas masa depan anaknya adalah masa depan yang amat panjang di akhirat nanti. Kiranya saran KH. Ma’ruf sangat tepat dan meresap di kolbu pak Naib, adn itulah yang dijalankan demi masa putra putrinya.

                KH. Djazuli Ustman dilahirkan di Ploso, 16 Mei 1900. Pada masa kecilnya Mas’ud terkenal dengan anak yang pendiam. Seperti anak yang lain, Mas’ud juga bermain dengan anak– anak yang lain, namun dalam bermain, Mas’ud tidak memilih permainan yang mengerahkan dan membutuhkan tenaga yang besar, melainkan olahraga ringan yang membutuhkan fikiran dan kefokusan seperti nekeran dan cirak, terdengar sepele tetapi membidik kelereng satu dengan yang lain bukanlah hal yang mudah. Tak ada yang tahu bahwa dibalik diamnya Mas’ud tersimpan mutiara kehebatan. Tak pernah disangka  kalau kalau kelereng merupakan awal keberangkatan pribadinya untuk menjadi orang yang luar biasa  di kemudian hari.

                Hari demi hari Mas’ud berkembang seperti anak yang lain. Usia 6 – 7 tahun beliau diterima di sekolah Ploso yang disebut sekolah cap Jago. Genap 3 tahun mengenyam di Cap Jago, dilanjutkanlah ke Inlandsche Vervolg School, nama sekolah lanjutan dengan masa dua tahun. Semakin rajin dan tekun saja, kini ia lebih banyak menimang – nimang buku daripada bermain kelerengnya. Dua tahun mengenyam pendidikan, genap sudah Mas’ud melanjutkan ketingkat SLTA dengan masuk di Hollandsch-Indlandsche School (HIS) di Grogol Kediri. Lagi– lagi Mas’ud menjadi murid yang palig menonjol dalam pelajaran. Kesempatan ini tidak dimiliki oleh saudara- saudara yang lain, mereka hanya sampai sekolah desa, kemudian masuk ke pesantren. Pak Naib ingin anak- anaknya memahami ilmu- ilmu agama, akidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Karena pada jaman itu Belanda hanya menekankan pada ilmu sekuler. Setelah diadakan rembukan keluarga, Mas’us diizinkan melanjutkan ke Stovia (UI) sekarang di kota Batavia.

                Di kemudian hari pak Naib kedatangan tamu, Kyai Ma’ruf Kedunglo, seorang yang dihormatinya berkunjung. “pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf mengawali pembicaaan dengan bahasa jawa yang halus. Pak Naib menjawab: “ke Batavia, dia melanjutkan sekolah di jurusan kedokteran”. Lalu dengan lembutnya Kyai Ma’ruf memberikan saran: “Saene Mas’ud dipun aturi wangsul, lare niku prayogi dipun lebetaken pondok”. Mengetahui bahwa Kyai Ma’ruf adalah murid sukses Kyai Kholil Bangkalan yang tersohor kewaliannya, pa Naib tidak bisa berbuat apa- apa, selain menyetujui saran tersebut meskipun hal ini diluar pertimbangan akalnya.

                Awal masuk pesantren, dengan mengucap Bismillaahirrohmaanirrohiim, berangkatlah ia ke pondok Gondanglegi diantarkan bapaknya mengendarai dokar, dan resmilah Mas’ud diterima sebagaimurid KH Ahmad Sholeh Gondanglegi Nganjuk, seorang ulama’ yang terkenal ‘alim dalam bidang Ulumul Qur’an. Disinilah Mas’ud mendalami ilmu- ilmu yang berkaitan dengan Al- Qur’an khususnya tajwid dan juga Nahwu. Dengan mengantongi ilmu nahwu, beliau melanjutkan mencari ilmu shorof di pondok Sono- Sidoarjo yang terkenal dengan tashrifan.

                Hingga menjadi pendiri PP Al Falah di Ploso, banyak hal yang bisa dipetik dari sifat- sifat beliau yang luar biasa, antara lain adalah istiqomahnya beliau untuk menjalankan jamaah sholat dan tak lupa dengan mengerjakan sholat rawatibnya. Juga istiqomah dalam hal mengajar pengajian kitab- kitab agama seperti Ihya’ Ulumuddi. Sifat beliau yang lain adalah ikhlasnya beliau dalam mengajarkan ilmu. Beliau berpesan kepada para guru yang isinya “hendaknya sikap kita dalam mengajar di depan seorang murid dengan seribu orang tetap sama, jangan dibeda- bedakan”, bahkan orang yang ihklas tidak perlu resah memikirkan apakah muridnya bisa atau tidak. “yang penting baca saja”, kata beliau.

                Beliau juga sangat Qonaah dan kuat dalam menahan nafsu. Tidak pernah keluar kata- kata “masakan ii kurang enak”. Beliau juga tidak pernah merasa kurang puas dan menggerutu. Nafsu serakah telah mampu beliau kendalikan. Dilain sisi Mas’ud juga sangat menghormati tamu. “alhamdulillah enek tamu. Nyai mesti mengko mbeleh pitik”. Tidak hanya omong belaka, tapi memang benar- benar dihidangkan oleh bu Nyai. Walaupun beliau tergolong orang yang tak punya, tapi tak sedikit orang yang bertamu ke rumah beliau ketika pulang di berinya amplop, tentu saja isinya uang.


    Sekitar tahun 1968 Kyai Dzazuli tertimpa cobaan dengan penyakit hernia, hingga mengharuskan beliau untuk menjalani operasi. Tak terlihat dari wajah beliau tanda- tanda sakit ketika menahan sakit. Bahkan dari bibir beliau berucap dengan penuh ketenangan “sakitku adalah sakit menjelang mati”. Beliau benar- benar telah menghadap sang kuasa pada jam 15.30 wib hari Sabtu Wage 10 Januari 1976, bertepatan dengan 10 Muharam 1396 H. Beliau wafat dalam keadaan tidak meninggalkan apa- apa berupa harta benda, melainkan sebuah PP Al Falah telah melebihi segalanya.Harapan dari penulis bahwa dengan membaca buku ini, akan memberikan pencerahan hati guna lebih semangat dalam belajar dan mengajar.

    Judul                           : Kagum Kepada Orang Indonesia
    Penulis                         : Emha Ainun Nadjib
    Penerbit                       : PT. Bentang Pustaka
    Tebal buku                  : 78 hal.
    Reviewer                     : Ahmad Suhail Alhazimi

                Indonesia menurut sudut pandang Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil dengan Cak Nun ini sangatlah berbeda dari sudut pandang orang-orang pada umumnya. Kebanyakan dari kita memandang Indonesia ini adalah sebuah negara yang belum dewasa, belum makmur, atau bahkan dianggap belum mencapai tahap negara berkembang. Para penyair ,aktivis, maupun politisi, semuanya mengkritik Indonesia serta memandang sisi negatif dari negara ini. Penggembor-gemboran hal negatif dari Indonesia banyak terjadi didalam karya-karya para cendekiawan. Sampai-sampai ada karya “Aku (malu) Jadi Orang Indonesia”. Meskipun hal itu dilakukan dalam rangka mengritisi, sisi negatif yang disampaikan secara berlebihan akan berakibat pada hilangnya rasa bangga akan negeri. Generasi baru Indonesia akan semakin acuh tak acuh ketika mindset malu akan Indonesia terbentuk. Hal-hal itulah yang membuat Cak Nun berinisiatif menulis karya yang anti mainstream, memandang Indonesia ini dari sisi yang positif, menghapus segala rasa su’udzonkepada negeri kita tercinta ini, karya itu berjudul “Kagum Kepada Orang Indonesia”.
                Meskipun tipis, karya ini adalah karya yang inspiratif. Cak Nun berhasil membuat hati kita terbuka lagi untuk menerima kebesaran Indonesia. Pesan dalam buku ini disampaikan lewat pengalaman Cak Nun saat bertemu dengan banyak orang Indonesia yang berhasil, termasuk orang Indonesia yang ada diluar negeri. Orang pintar negeri ini kebanyakan memandang TKW dan TKI sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan, namun Cak Nun memandang TKW dan TKI ini sebagai sesuatu yang patut dibanggakan, karena menurut beliau, hal itu menandakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ulet dan bukan bangsa yang pemalas. Banyaknya TKW dan TKI yang digemari oleh masyarakat luar negeri menunjukkan bahwa kerja orang Indonesia memang bagus. Selain itu Cak Nun juga menyampaikan bahwa Bangsa ini adalah bangsa besar yang tidak butuh kebesaran.
    Kebesaran Indonesia dimulai dari kondisi alamnya. Tidak banyak bangsa yang mempunyai keberagaman flora dan fauna seperti Indonesia. Objek wisata dan pemandangannya tidak akan selesai kita jelajahi walaupun menghabiskan waktu seumur hidup. Dengan kondisi alam seperti itu, lalu mengapa kita bukan negara eksportir produk pertanian terbesar, dan bahkan mengapa yang menjadi negara eksportir terbesar adalah negara yang pada dasarnya kurang subur dibanding Indonesia?.Cak Nun menjawab hal tersebut dengan sederhana. “Itu bukan karena orang Jawa yang pemalas dan bukan karena manajemen pemerintahan Indonesia bodoh, melainkan karena bangsa kita tidak cemas: sewaktu waktu bisa menanam padi sambil tidur dan memanennya sambil mengantuk sebagai rasa syukur kepada Allah atas anugerah alam subur indah dari-Nya.”
    Indonesia adalah sesuatu yang patut dibanggahkan. Jangan malu akan indonesia. Dan Jangan salahkan keadaan. Lihatlah sesuatu selalu dari positifnya maka hal itu akan terus membuatmu melangkah maju.
               
               


    Pereview         : Ashil Falih Kes Foh Al Ghozali
    Judul Buku       : Hafalan Shalat Delisa
    Pengarang       : Darwis Tere Liye
    Penerbit          : Republika
    Tahun Terbit   :  Januari 2011

    Hafalan Shalat Delisa



    Novel yang diciptakan oleh Tere Liye dengan aliran romantis sentimentalis ini, mampu membuat para penikmat membaca menciptakan suasana romantis dan mengesankan. Novel ini sangat bagus untuk dibaca semua kalangan, baik anak-anak maupun remaja bahkan orang tua sekalipun. Pesan yang tersirat memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. Isinya penuh dengan perenungan bagi siapa saja yang khusyu’ mengkhayati alur cerita ini, isi cerita dibalut dengan suasana tegang, haru, serta menonjolkan keharmonisan keluarga berbalut islami ditengah pulau Lhok Ngah,Aceh dan memiliki makna tersendiri bagi penikmatnya. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami pagi penikmat pembaca, serta penulis menyajikan imajinasi untuk para pembaca mengenai alur dan setting cerita tersebut mengenai tsunami di Aceh tahun 2004 dan kehidupan usai dilanda bencana menggetarkan dunia tersebut. Kekurangan yang ada dinovel ini penulis terlalu tinggi atau berlebihan menggambarkan sifat tokoh anak pada novel ini. Selain berwujud dalam sebuah buku, novel Hafalan shalat Delisa ini, sudah difilmkan pada tanggal 22 Desember 2011.

    Subhanallah, dengan rapinya Tere Liye menggambarkan perihnya kehidupan seorang gadis kecil tokoh utama yang bernama Delisa, gadis kecil asal Lhok-Ngah Aceh berusia 6 tahun ini penggemar warna biru, penggemar coklat, berambut keriting, bermata hijau, kulit putih kemerahan dan sangat hobi dengan bermain sepak bola. Ia cerdas, polos dan suka bertanya, sehingga sangat menggemaskan bagi orang-orang yang berada didekatnya. Delisa tinggal bersama umminya bernama Salamah dan ketiga kakaknya bernama Cut Alisa Fatimah, kedua kakak Delisa yang kembar bernama Cut Alisa Zahra dan Cut Alisa Aisyah. Ayahnya yang biasa dipanggil Abi bernama Usman, beliau bekerja dikapal tanker dan baru pulang setiap 3 bulan sekali.Delisa akan menempuh ujian diSekolah Dasarnya di Lhok Ngah, ujiannya yakni untuk dapat menghafal bacaan shalat dengan baik dan benar serta mendapat predikat lulus dari gurunya bernama bu guru Nur, ujian yang akan ditempuh Delisa sama halya dengan ketiga kakaknya yang terdahulu sudah lulus ujian hafalan shalat, seperti sebuah tradisi dikeluarga Delisa yakni jika lulus ujian hafalan shalat maka ummi akan memberi hadiah kalung, ketiga kakaknya sudah memiliki kalung itu. Delisa sangat termotivasi akan hadiah yang diberikan ummi sebuah kalung yang sudah ia beli dengan ummi di toko mas paten, pemiliknya bernama Koh Acan keturunan China. Pada saat memilih, Koh Acan menawarkan sebuah kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D untuk Delisa, ia pun mulai antusias untuk segera memilikinya. “Kalung, yang sugguh tanpa didasari Delisa, akan membawanya ke semua lingkaran mengharukan cerita ini”.

    Pada Ahad 26 Desember 2004, ujian hafalan shalat Delisa pun dimulai, ummi Salamah menunggu diluar kelas beserta wali murid yang lainnya. Cut Alisa Delisa, suara bu guru Nur memanggil Delisa untuk segera mempersiapkan diri maju didepan, mukena berwarna biru menutupi seluruh tubuhnya. Delisa mempraktekkan hafalan shalatnya didepan kelas. tiba-tiba ketika ussai ber-takbiratul-ihram (pada kata wa-ma-yaya, wa-ma-ma-ti), dasar bumi, lantai bumi retak seketika, tanah bergetar dahsyat menjalar menggetarkan dunia ratus ribuan kilometer. Air laut seketika mendidih, tersedot kerekahan maha luas. Gempa berkekuatan 8,9 SR itu membuat air laut teraduk, Tsunami menyusul menyapu seisi daratan.Namun Delisa yang menanamkan dengan baik nasehat ustadznya ketika shalat hanya ada satu dipikiran, tetap khusyu’ dan terus saja melafalkan bacaan-bacaan shalat, karena ia hanya menempatkan satu fokus, kepada Allah. Tapi tsunami terlalu kuat untuk sekedar menghayutkan tubuh lemahnya, hingga kemudian membiarkan Delisa terdampar di antara semak belukar. Enam hari ia tak sadarkan diri, ketika sadar ia menemukan kakinya terjepit, Delisa hanya bisa terbaring lemah hingga akhirnya salah seorang prajurit Amerika menemukannya, kemudian ia bawa dan dirawat oleh sukarelawan diatas kapal angkatan laut Amerika.

    Delisa masih saja tak sadarkan diri, sampai ketika seorang ibu yang dirawat disampingnya melakukan shalat tahajud dan melafalkan do’a bacaan shalat. Delisa akhirnya sadar, dan harus menerima kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi dan ia harus menerima beberapa luka jahitan disekujur tubuhnya. Tapi dibalik semua itu, Delisa masih bisa bertemu dengan abinya. Delisa bukanlah gadis kecil berusia enam tahun yang biasa saja, ia mampu menjadi lebih dewasa dan kuat dibalik usianya. Ia memulai kembali kehidupan baru bersama abinya di posko-posko pengungsian, kembali bersekolah yang baru dibuka oleh sukarelawan. Tetapi satu hal yang Delisa sesalkan adalah hilangnya hafalan-hafalan bacaan shalat. Seketika ia sadar bahwa selama ini, ia tak tulus menghafalkannya. Ia menghafal demi imbalan coklat dari ustadznya dan kalung dari umminya. Sejak saat itu, ia bertekad untuk kembali menghafalkannya terlebih setelah suatu hari ia bermimpi bertemu dengan umminya yang memintanya untuk tetap menyelesaikan hafalan shalatnya kembali.

    Hari itu tiba, teman-teman Delisa dan kak Ubay salah seorang sukarelawan PMI, usai bermain-main, kak Ubay mengimami mereka semua untuk melaksanakan shalat Ashar berjama’ah. Untuk pertama kalinya, Delisa mampu menyelesaikan shalatnya dengan sempurna, tanpa tertinggal ataupun terbalik dari setiap bacaannya. Ia berhasil menempatkan satu fokus dari takbiratul ikhram hingga berakhirnya salam kedua. Selesai shalat Ashar, Delisa pergi kesungai untuk mencuci tangan. Ia melihat pantulan cahaya matahari senja dari sebuah benda yang terjuntai di semak belukar, berada di seberang sungai. Mendadak hati Delisa bergetar. Delisa berkata “ya Allah, bukankah itu seuntai kalung?”. Ternyata Delisa benar, benda itu adalah sebuah kalung yang indah.kalung berinisial D, untuk Delisa, yang dijanjikan oleh ibunya ketika ia berhasil melewati ujian hafalan shalat, yang membuat Delisa bertambah terkejut kalung itu ternyata bukan tersangkut di dahan, tetapi tersangkut di pergelangan tangan, yang sudah sempurna menjadi kerangka manusia, putih belulang, utuh bersandarkan semak belukar tersebut. Tangan itu adalah jasad tangan ummi yang sudah 3 bulan lebih menggenggam kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D, untuk Delisa. Delisa kini tersadar bahwa keikhlasan lah yang mampu membuat Delisa mampu menghafal bacaan shalat. Bukan untuk hadiah kalung tersebut, namun untuk mendo’akan ummi Salamah, Kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisah di surga.



Top