, , , , ,



    Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya membuka pendaftaran santri baru untuk angkatan 2016/2017.

    Prosedur Pendaftaran
    1. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran** 
    2. Melengkapi persyaratan yang diperlukan
    3. Mengikuti tes seleksi (baca Al-Qur'an, psikotes dan wawancara). * 
    4. Pengumuman hasil tes

    Syarat-Syarat Pendaftaran
    1. Mahasiswa Laki-laki
    2. Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB yang dilegalisir 1 lembar
    3. Menyerahkan fotokopi Nilai Ujian Nasional yang dilegalisir 1 lembar
    4. Menyerahkan fotokopi nilai rapor kelas 3 SMA semester 1 dan 2, 1 lembar
    5. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM 2 lembar
    6. Menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga 2 lembar
    7. Menyerahkan pas foto 4x6 2 lembar
    8. Menyerahkan surat pernyataan orang tua 1 lembar 

    Waktu Pendaftaran
    * 1 - 14 Agustus 2016

    Jadwal tes seleksi 
    * Informasi menyusul


    **Formulir bisa diunduh di sini

    Info lebih lanjut, hubungi:
    Mas Tije (085 634 635 03), 

    Sekretariat: Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Jl. Gubeng Kertajaya 5D/22 Surabaya

    Hugo Chavez, Malaikat Dari Selatan
    Review buku “Hugo Chavez, malaikat dari selatan” karya Tofik Pram




                            Di dalam buku ini menceritakan biografi Hugo Chavez yang kontra terhadap Paham Liberalisme. Karena tak selamanya paham tersebut dapat menyejahterahkan rakyat. Terbukti bahwa masih adanya rakyat yang miskin akibat meluasnya paham tersebut. Selain itu juga adanya Gap antara si kaya dan si miskin yang mengakibatkan si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Oleh karena itu, Hugo Chavez yang beraliran “Kiri” tersebut ingin mengubah dari sistem dunia yang berpaham Liberalisme menjadi paham Komunis.

                Chavez seorang yang keras, vokal, dan luar biasa berprinsip. Di saat sebagian besar pemimpin dunia memilih menjadi diplomat taktis yang penuh kehati-hatian dan “main belakang”, tidak pernah ada yang ambigu dari setiap sikap dan keputusan politik Chavez—paling tidak di depan mata publik. Mungkin karakteristik itu bukan hal yang bijaksana dan entah sudah berapa kali Chavez lolos dari percobaan pembunuhan, tapi faktanya beliau berhasil terpilih sebagai pemimpin Venezuela dalam empat periode berturut-turut sebelum akhirnya dikalahkan oleh penyakit kanker yang sudah menggerogotinya sejak dua tahun terakhir (*seandainya tidak wafat, Chavez akan terus menjabat hingga tahun 2019 dalam periode kepresidenannya yang keempat).

                Hugo Chavez kecil, yang orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Kesulitan masa kecil ini menjadi bibit pemikiran Chavez dan seiring dengan kariernya selanjutnya di dunia militer, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang sosialis sejati dengan Simon Bolivar sebagai tokoh panutannya. Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin Venezuela, Chavez tidak buang-buang waktu memaparkan rencana ambisiusnya menjadikan negara itu sebagai “surga sosialis” sekaligus menyampaikan pidato-pidato kontroversial mengenai kebusukan kapitalisme dengan suaranya yang khas menggelegar. 

                Chavez tidak hanya sekedar asal cuap-cuap. Ia juga pintar menggunakan aset sumber daya minyak negaranya yang berlimpah sebagai senjata politik, sekaligus mengumpulkan sekutu-sekutu regional seperti Evo Morales (Bolivia) dan Daniel Ortega (Nikaragua). Pengaruh filosofi Chavez bukan hanya sebatas lingkup negaranya, tapi juga menyebar di seluruh kawasan Amerika Latin dan mengubah peta geopolitik benua itu selama satu dekade terakhir. Ia rajin menggalakkan program-program sosial yang revolusioner, memandu acara talk show yang diisi langsung oleh dirinya, dan sangat pintar memposisikan diri sebagai “salah satu dari rakyat.” Tak heran, ia sangat dielu-elukan oleh simpatisan di negaranya dan  sebagian kalangan di dunia internasional. 

                Namun, dunia politik tidak pernah lepas dari keabu-abuan. Di balik imejnya yang sangat populis, banyak pula kritikan pedas yang menerpa Chavez selama periode kepemimpinannya. Ia dianggap gagal menangani perekonomian Venezuela, danwalaupun tingkat pendapatan masyarakat memang meningkat selama eranya, peningkatan itu nyaris tak berarti akibat melemahnya nilai uang Venezuela sendiri. Negara ini mengalami inflasi sampai dua digit, lonjakan tingkat kriminalitas, dan terlalu bergantung pada minyak sebagai sumber pendapatan negara—hal yang akan menjadi masalah besar bila terjadi krisis harga di pasar global.     Ironisnya lagi, pada 2012 Venezuela tercatat sebagai negara Latin paling korup menurut survey tahunan International Transparency (IT). 

                Di tengah isak tangis, banyak pula yang diam-diam mensyukuri kepergian Chavez—dan sebagian di antaranya dari kalangan orang Venezuela sendiri. Bukan rahasia umum lagi bahwa Chavez tidak sungkan menekan media domestik yang berani mengkritik kebijakannya, ataupun menggunakan strategi-strategi yang  kurang elok untuk dapat terus memenangkan pemilihan. Di saat kalangan oposisi tidak ada yang berdaya menjatuhkannya, kanker yang akhirnya mengalahkan Chavez mungkin menjadi blessing in disguise bagi sebagian kalangan yang menginginkan perubahan di Venezuela. 

               Terlepas dari itu semua, kharisma dan kekuatan kepribadian Chavez telah menginspirasi sejumlah orang di dunia. Sulit untuk menemukan sumber media yang dapat benar-benar objektif menilai Chavez, dan mungkin kebenaran sebenarnya mengenai rezimnya tak akan pernah terungkap. Walau begitu, saya memilih untuk percaya bahwa idealism dan segala impiannya untuk memajukan Venezuela memang benar-benar tulus. Hugo Chavez tidak seharusnya "hanya" dikenang oleh dunia sebagai "si anti-Amerika", melainkan sebagai sosok patriot dengan segala kelebihan dan kekurangannya di tengah dunia politik yang sangat kompleks dan abu-abu.


    Reviewer : Pito Budi Prasetyo

    Penulis Review           : Moh. Saad Baruqi
    Pengarang                   : H. Imam Mu’alimin
    Tahun terbit                 : Agustus 2011
    Judul buku                  : KH. DJAZULI UTSMAN (Sang Blawong Pewaris Keluhuran)
    Kota penerbit              : Ploso Mojo Kediri
    Penerbit                       : Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri
    Tebal buku                  : 161 Halaman
               

    Mas’ud atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan KH. Djazuli Ustman adalah putra dari bapak naib dari Ploso Kediri yang bernama Mas Moh. Ustman Bin Mas Moh. Sahal. Sahal yang akrab dengan sebutan pak Naib ini memiliki kebiasaan rutin yang dilakukan sampai menjelang wafatnya. Bermula dengan bertemunya beliau dengan KH. Ma’ruf Kedunglo yang masih memiliki hubungan saudara dengannya. KH. Ma’ruf berpesan : “Ustman, apabila kamu ingin anak-anakmu kelak menjadi orang yang berilmu, beramal dan bermanfaat, rajin– rajinlah bersilaturahmi dengan para ‘alim ‘ulama. Kalau tidak anakmu, insya Alloh cucumu yang ali”. Karena saran tersebut, sudah menjadi kebiasaan rutin pak Naib menjalani rutinitas bersilaturahmi dengan para ulama mulai pagi hingga sore.

                Pak Naib dikaruniai 13 anak dengan tujuh orang putra dan 6 orang putri dari pernikahannya dengan Mas Ajeng Muntoqinah binti M. Syafi’i, KH. Djazuli Ustman adalah putra ke 7 dari ketigabelas anaknya. Sesungguhnya yang menjadi kekhawatiran pak Naib atas masa depan anaknya adalah masa depan yang amat panjang di akhirat nanti. Kiranya saran KH. Ma’ruf sangat tepat dan meresap di kolbu pak Naib, adn itulah yang dijalankan demi masa putra putrinya.

                KH. Djazuli Ustman dilahirkan di Ploso, 16 Mei 1900. Pada masa kecilnya Mas’ud terkenal dengan anak yang pendiam. Seperti anak yang lain, Mas’ud juga bermain dengan anak– anak yang lain, namun dalam bermain, Mas’ud tidak memilih permainan yang mengerahkan dan membutuhkan tenaga yang besar, melainkan olahraga ringan yang membutuhkan fikiran dan kefokusan seperti nekeran dan cirak, terdengar sepele tetapi membidik kelereng satu dengan yang lain bukanlah hal yang mudah. Tak ada yang tahu bahwa dibalik diamnya Mas’ud tersimpan mutiara kehebatan. Tak pernah disangka  kalau kalau kelereng merupakan awal keberangkatan pribadinya untuk menjadi orang yang luar biasa  di kemudian hari.

                Hari demi hari Mas’ud berkembang seperti anak yang lain. Usia 6 – 7 tahun beliau diterima di sekolah Ploso yang disebut sekolah cap Jago. Genap 3 tahun mengenyam di Cap Jago, dilanjutkanlah ke Inlandsche Vervolg School, nama sekolah lanjutan dengan masa dua tahun. Semakin rajin dan tekun saja, kini ia lebih banyak menimang – nimang buku daripada bermain kelerengnya. Dua tahun mengenyam pendidikan, genap sudah Mas’ud melanjutkan ketingkat SLTA dengan masuk di Hollandsch-Indlandsche School (HIS) di Grogol Kediri. Lagi– lagi Mas’ud menjadi murid yang palig menonjol dalam pelajaran. Kesempatan ini tidak dimiliki oleh saudara- saudara yang lain, mereka hanya sampai sekolah desa, kemudian masuk ke pesantren. Pak Naib ingin anak- anaknya memahami ilmu- ilmu agama, akidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Karena pada jaman itu Belanda hanya menekankan pada ilmu sekuler. Setelah diadakan rembukan keluarga, Mas’us diizinkan melanjutkan ke Stovia (UI) sekarang di kota Batavia.

                Di kemudian hari pak Naib kedatangan tamu, Kyai Ma’ruf Kedunglo, seorang yang dihormatinya berkunjung. “pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf mengawali pembicaaan dengan bahasa jawa yang halus. Pak Naib menjawab: “ke Batavia, dia melanjutkan sekolah di jurusan kedokteran”. Lalu dengan lembutnya Kyai Ma’ruf memberikan saran: “Saene Mas’ud dipun aturi wangsul, lare niku prayogi dipun lebetaken pondok”. Mengetahui bahwa Kyai Ma’ruf adalah murid sukses Kyai Kholil Bangkalan yang tersohor kewaliannya, pa Naib tidak bisa berbuat apa- apa, selain menyetujui saran tersebut meskipun hal ini diluar pertimbangan akalnya.

                Awal masuk pesantren, dengan mengucap Bismillaahirrohmaanirrohiim, berangkatlah ia ke pondok Gondanglegi diantarkan bapaknya mengendarai dokar, dan resmilah Mas’ud diterima sebagaimurid KH Ahmad Sholeh Gondanglegi Nganjuk, seorang ulama’ yang terkenal ‘alim dalam bidang Ulumul Qur’an. Disinilah Mas’ud mendalami ilmu- ilmu yang berkaitan dengan Al- Qur’an khususnya tajwid dan juga Nahwu. Dengan mengantongi ilmu nahwu, beliau melanjutkan mencari ilmu shorof di pondok Sono- Sidoarjo yang terkenal dengan tashrifan.

                Hingga menjadi pendiri PP Al Falah di Ploso, banyak hal yang bisa dipetik dari sifat- sifat beliau yang luar biasa, antara lain adalah istiqomahnya beliau untuk menjalankan jamaah sholat dan tak lupa dengan mengerjakan sholat rawatibnya. Juga istiqomah dalam hal mengajar pengajian kitab- kitab agama seperti Ihya’ Ulumuddi. Sifat beliau yang lain adalah ikhlasnya beliau dalam mengajarkan ilmu. Beliau berpesan kepada para guru yang isinya “hendaknya sikap kita dalam mengajar di depan seorang murid dengan seribu orang tetap sama, jangan dibeda- bedakan”, bahkan orang yang ihklas tidak perlu resah memikirkan apakah muridnya bisa atau tidak. “yang penting baca saja”, kata beliau.

                Beliau juga sangat Qonaah dan kuat dalam menahan nafsu. Tidak pernah keluar kata- kata “masakan ii kurang enak”. Beliau juga tidak pernah merasa kurang puas dan menggerutu. Nafsu serakah telah mampu beliau kendalikan. Dilain sisi Mas’ud juga sangat menghormati tamu. “alhamdulillah enek tamu. Nyai mesti mengko mbeleh pitik”. Tidak hanya omong belaka, tapi memang benar- benar dihidangkan oleh bu Nyai. Walaupun beliau tergolong orang yang tak punya, tapi tak sedikit orang yang bertamu ke rumah beliau ketika pulang di berinya amplop, tentu saja isinya uang.


    Sekitar tahun 1968 Kyai Dzazuli tertimpa cobaan dengan penyakit hernia, hingga mengharuskan beliau untuk menjalani operasi. Tak terlihat dari wajah beliau tanda- tanda sakit ketika menahan sakit. Bahkan dari bibir beliau berucap dengan penuh ketenangan “sakitku adalah sakit menjelang mati”. Beliau benar- benar telah menghadap sang kuasa pada jam 15.30 wib hari Sabtu Wage 10 Januari 1976, bertepatan dengan 10 Muharam 1396 H. Beliau wafat dalam keadaan tidak meninggalkan apa- apa berupa harta benda, melainkan sebuah PP Al Falah telah melebihi segalanya.Harapan dari penulis bahwa dengan membaca buku ini, akan memberikan pencerahan hati guna lebih semangat dalam belajar dan mengajar.

    Judul                           : Kagum Kepada Orang Indonesia
    Penulis                         : Emha Ainun Nadjib
    Penerbit                       : PT. Bentang Pustaka
    Tebal buku                  : 78 hal.
    Reviewer                     : Ahmad Suhail Alhazimi

                Indonesia menurut sudut pandang Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil dengan Cak Nun ini sangatlah berbeda dari sudut pandang orang-orang pada umumnya. Kebanyakan dari kita memandang Indonesia ini adalah sebuah negara yang belum dewasa, belum makmur, atau bahkan dianggap belum mencapai tahap negara berkembang. Para penyair ,aktivis, maupun politisi, semuanya mengkritik Indonesia serta memandang sisi negatif dari negara ini. Penggembor-gemboran hal negatif dari Indonesia banyak terjadi didalam karya-karya para cendekiawan. Sampai-sampai ada karya “Aku (malu) Jadi Orang Indonesia”. Meskipun hal itu dilakukan dalam rangka mengritisi, sisi negatif yang disampaikan secara berlebihan akan berakibat pada hilangnya rasa bangga akan negeri. Generasi baru Indonesia akan semakin acuh tak acuh ketika mindset malu akan Indonesia terbentuk. Hal-hal itulah yang membuat Cak Nun berinisiatif menulis karya yang anti mainstream, memandang Indonesia ini dari sisi yang positif, menghapus segala rasa su’udzonkepada negeri kita tercinta ini, karya itu berjudul “Kagum Kepada Orang Indonesia”.
                Meskipun tipis, karya ini adalah karya yang inspiratif. Cak Nun berhasil membuat hati kita terbuka lagi untuk menerima kebesaran Indonesia. Pesan dalam buku ini disampaikan lewat pengalaman Cak Nun saat bertemu dengan banyak orang Indonesia yang berhasil, termasuk orang Indonesia yang ada diluar negeri. Orang pintar negeri ini kebanyakan memandang TKW dan TKI sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan, namun Cak Nun memandang TKW dan TKI ini sebagai sesuatu yang patut dibanggakan, karena menurut beliau, hal itu menandakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ulet dan bukan bangsa yang pemalas. Banyaknya TKW dan TKI yang digemari oleh masyarakat luar negeri menunjukkan bahwa kerja orang Indonesia memang bagus. Selain itu Cak Nun juga menyampaikan bahwa Bangsa ini adalah bangsa besar yang tidak butuh kebesaran.
    Kebesaran Indonesia dimulai dari kondisi alamnya. Tidak banyak bangsa yang mempunyai keberagaman flora dan fauna seperti Indonesia. Objek wisata dan pemandangannya tidak akan selesai kita jelajahi walaupun menghabiskan waktu seumur hidup. Dengan kondisi alam seperti itu, lalu mengapa kita bukan negara eksportir produk pertanian terbesar, dan bahkan mengapa yang menjadi negara eksportir terbesar adalah negara yang pada dasarnya kurang subur dibanding Indonesia?.Cak Nun menjawab hal tersebut dengan sederhana. “Itu bukan karena orang Jawa yang pemalas dan bukan karena manajemen pemerintahan Indonesia bodoh, melainkan karena bangsa kita tidak cemas: sewaktu waktu bisa menanam padi sambil tidur dan memanennya sambil mengantuk sebagai rasa syukur kepada Allah atas anugerah alam subur indah dari-Nya.”
    Indonesia adalah sesuatu yang patut dibanggahkan. Jangan malu akan indonesia. Dan Jangan salahkan keadaan. Lihatlah sesuatu selalu dari positifnya maka hal itu akan terus membuatmu melangkah maju.
               
               


    Pereview         : Ashil Falih Kes Foh Al Ghozali
    Judul Buku       : Hafalan Shalat Delisa
    Pengarang       : Darwis Tere Liye
    Penerbit          : Republika
    Tahun Terbit   :  Januari 2011

    Hafalan Shalat Delisa



    Novel yang diciptakan oleh Tere Liye dengan aliran romantis sentimentalis ini, mampu membuat para penikmat membaca menciptakan suasana romantis dan mengesankan. Novel ini sangat bagus untuk dibaca semua kalangan, baik anak-anak maupun remaja bahkan orang tua sekalipun. Pesan yang tersirat memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. Isinya penuh dengan perenungan bagi siapa saja yang khusyu’ mengkhayati alur cerita ini, isi cerita dibalut dengan suasana tegang, haru, serta menonjolkan keharmonisan keluarga berbalut islami ditengah pulau Lhok Ngah,Aceh dan memiliki makna tersendiri bagi penikmatnya. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami pagi penikmat pembaca, serta penulis menyajikan imajinasi untuk para pembaca mengenai alur dan setting cerita tersebut mengenai tsunami di Aceh tahun 2004 dan kehidupan usai dilanda bencana menggetarkan dunia tersebut. Kekurangan yang ada dinovel ini penulis terlalu tinggi atau berlebihan menggambarkan sifat tokoh anak pada novel ini. Selain berwujud dalam sebuah buku, novel Hafalan shalat Delisa ini, sudah difilmkan pada tanggal 22 Desember 2011.

    Subhanallah, dengan rapinya Tere Liye menggambarkan perihnya kehidupan seorang gadis kecil tokoh utama yang bernama Delisa, gadis kecil asal Lhok-Ngah Aceh berusia 6 tahun ini penggemar warna biru, penggemar coklat, berambut keriting, bermata hijau, kulit putih kemerahan dan sangat hobi dengan bermain sepak bola. Ia cerdas, polos dan suka bertanya, sehingga sangat menggemaskan bagi orang-orang yang berada didekatnya. Delisa tinggal bersama umminya bernama Salamah dan ketiga kakaknya bernama Cut Alisa Fatimah, kedua kakak Delisa yang kembar bernama Cut Alisa Zahra dan Cut Alisa Aisyah. Ayahnya yang biasa dipanggil Abi bernama Usman, beliau bekerja dikapal tanker dan baru pulang setiap 3 bulan sekali.Delisa akan menempuh ujian diSekolah Dasarnya di Lhok Ngah, ujiannya yakni untuk dapat menghafal bacaan shalat dengan baik dan benar serta mendapat predikat lulus dari gurunya bernama bu guru Nur, ujian yang akan ditempuh Delisa sama halya dengan ketiga kakaknya yang terdahulu sudah lulus ujian hafalan shalat, seperti sebuah tradisi dikeluarga Delisa yakni jika lulus ujian hafalan shalat maka ummi akan memberi hadiah kalung, ketiga kakaknya sudah memiliki kalung itu. Delisa sangat termotivasi akan hadiah yang diberikan ummi sebuah kalung yang sudah ia beli dengan ummi di toko mas paten, pemiliknya bernama Koh Acan keturunan China. Pada saat memilih, Koh Acan menawarkan sebuah kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D untuk Delisa, ia pun mulai antusias untuk segera memilikinya. “Kalung, yang sugguh tanpa didasari Delisa, akan membawanya ke semua lingkaran mengharukan cerita ini”.

    Pada Ahad 26 Desember 2004, ujian hafalan shalat Delisa pun dimulai, ummi Salamah menunggu diluar kelas beserta wali murid yang lainnya. Cut Alisa Delisa, suara bu guru Nur memanggil Delisa untuk segera mempersiapkan diri maju didepan, mukena berwarna biru menutupi seluruh tubuhnya. Delisa mempraktekkan hafalan shalatnya didepan kelas. tiba-tiba ketika ussai ber-takbiratul-ihram (pada kata wa-ma-yaya, wa-ma-ma-ti), dasar bumi, lantai bumi retak seketika, tanah bergetar dahsyat menjalar menggetarkan dunia ratus ribuan kilometer. Air laut seketika mendidih, tersedot kerekahan maha luas. Gempa berkekuatan 8,9 SR itu membuat air laut teraduk, Tsunami menyusul menyapu seisi daratan.Namun Delisa yang menanamkan dengan baik nasehat ustadznya ketika shalat hanya ada satu dipikiran, tetap khusyu’ dan terus saja melafalkan bacaan-bacaan shalat, karena ia hanya menempatkan satu fokus, kepada Allah. Tapi tsunami terlalu kuat untuk sekedar menghayutkan tubuh lemahnya, hingga kemudian membiarkan Delisa terdampar di antara semak belukar. Enam hari ia tak sadarkan diri, ketika sadar ia menemukan kakinya terjepit, Delisa hanya bisa terbaring lemah hingga akhirnya salah seorang prajurit Amerika menemukannya, kemudian ia bawa dan dirawat oleh sukarelawan diatas kapal angkatan laut Amerika.

    Delisa masih saja tak sadarkan diri, sampai ketika seorang ibu yang dirawat disampingnya melakukan shalat tahajud dan melafalkan do’a bacaan shalat. Delisa akhirnya sadar, dan harus menerima kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi dan ia harus menerima beberapa luka jahitan disekujur tubuhnya. Tapi dibalik semua itu, Delisa masih bisa bertemu dengan abinya. Delisa bukanlah gadis kecil berusia enam tahun yang biasa saja, ia mampu menjadi lebih dewasa dan kuat dibalik usianya. Ia memulai kembali kehidupan baru bersama abinya di posko-posko pengungsian, kembali bersekolah yang baru dibuka oleh sukarelawan. Tetapi satu hal yang Delisa sesalkan adalah hilangnya hafalan-hafalan bacaan shalat. Seketika ia sadar bahwa selama ini, ia tak tulus menghafalkannya. Ia menghafal demi imbalan coklat dari ustadznya dan kalung dari umminya. Sejak saat itu, ia bertekad untuk kembali menghafalkannya terlebih setelah suatu hari ia bermimpi bertemu dengan umminya yang memintanya untuk tetap menyelesaikan hafalan shalatnya kembali.

    Hari itu tiba, teman-teman Delisa dan kak Ubay salah seorang sukarelawan PMI, usai bermain-main, kak Ubay mengimami mereka semua untuk melaksanakan shalat Ashar berjama’ah. Untuk pertama kalinya, Delisa mampu menyelesaikan shalatnya dengan sempurna, tanpa tertinggal ataupun terbalik dari setiap bacaannya. Ia berhasil menempatkan satu fokus dari takbiratul ikhram hingga berakhirnya salam kedua. Selesai shalat Ashar, Delisa pergi kesungai untuk mencuci tangan. Ia melihat pantulan cahaya matahari senja dari sebuah benda yang terjuntai di semak belukar, berada di seberang sungai. Mendadak hati Delisa bergetar. Delisa berkata “ya Allah, bukankah itu seuntai kalung?”. Ternyata Delisa benar, benda itu adalah sebuah kalung yang indah.kalung berinisial D, untuk Delisa, yang dijanjikan oleh ibunya ketika ia berhasil melewati ujian hafalan shalat, yang membuat Delisa bertambah terkejut kalung itu ternyata bukan tersangkut di dahan, tetapi tersangkut di pergelangan tangan, yang sudah sempurna menjadi kerangka manusia, putih belulang, utuh bersandarkan semak belukar tersebut. Tangan itu adalah jasad tangan ummi yang sudah 3 bulan lebih menggenggam kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D, untuk Delisa. Delisa kini tersadar bahwa keikhlasan lah yang mampu membuat Delisa mampu menghafal bacaan shalat. Bukan untuk hadiah kalung tersebut, namun untuk mendo’akan ummi Salamah, Kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisah di surga.


    Pereview             : Ashil Falih Kes Foh Al Ghozali
    Judul Buku          : Habibie& Ainun
    Penulis                 : Bacharuddin Jusuf Habibie
    Penerbit              : PT THC Mandiri
    Tahun Terbit      : November, 2010
    HABIBIE & AINUN
    Novel ini diluncurkan pada tanggal 30 November 2010 di Jakarta. Menceritakan berbagai kisah cinta menarik antara Pak Habibie dan Ibu Ainun. Mulai dari perjumpaan keduanya yang menjadi awal segalanya, keseharian dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga kejadian memilukan tatkala sang takdir Ilahi memisahkan keduanya. Selain itu para pembaca juga akan menemukan beberapa untaian doa dan puisi cinta yang pernah ditulis keduanya. Tak berlebihan jika Habibie mengatakan saat dirinya menulis buku ini tiap halamannya penuh dengan tetesan air mata. Menurutnya kehadiran Ainun yang telah mendampinginya selama ini, telah menjadi api yang selalu membakar energi semangat dan jiwanya dalam menjalani hidup. Sekaligus laksana air yang selalu menyiram dan meredakan gejolak jiwanya hingga kembali tenang. Menyajikan sebuah alur cerita unik dan menawan sehingga begitu lekat dimata para pembacanya. Membaca buku ini membuka jendela pemahaman akan cinta suci sepasang insan manusia. Cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi atas ijin Allah SWT.


    Dimulai dengan bertemunya kembali Habibie dengan Ainun di kediaman keluarga Besari (Keluarga Ainun) setelah hampir 7 tahun tidak bertemu. Pertemuan malam Idul Fitri itu menyisakan kenangan rindu bagi Habibie muda akan pandangan mata menyejukkan yang diberikan oleh Ainun muda kala itu. Proses pertunangan dan pernikahan yang cukup cepat, namun dilakukan dengan kepastian jiwa dan kekuatan cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi serta keyainan bahwa Allah SWT selalu akan menemani, memungkinkan keduanya yakin untuk bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga di rantau (Jerman) mengingat masa cuti Habibie yang hanya 3 bulan akan segera habis.Setibanya mereka di Jerman berbekal 2 koper berdua, disanalah perjuangan mereka dimulai. Sebuah kisah inspiratif yang patut dijadikan contoh sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah, insya Allah.

    Betapa Ibu Ainun sangat mendukung pekerjaan dan tugas Bapak Habibie dengan tanpa mengeluh selalu mencoba melakukan tugas dan kegiatannya dengan sebaiknya tanpa mengganggu konsentrasi perhatian dan pekerjaan Habibie. Memberikan masukan intelektual dan pertimbangan juga saran yang saling mendukung satu sama lain. Selalu menjaga dan mengontrol kesehatan Habibie dengan menyediakan makanan sehat juga senyum menawan yang selalu dirindukan Habibie.Sebaliknya Habibie juga selalu melibatkan Ainun dalam setiap kegiatannya, menceritakan dan meminta pertimbangan istrinya untuk setiap keputusan yang akan diambil. Benar-benar perpaduan yang harmonis indah romantis atas dasar cinta.

    Dibagian tengah cerita, sebuah kesadaran pun ingin ditularkan oleh penulis kepada seluruh pembacanya (bahkan mungkin penonton filmnya). Bahwasanya semangat nasionalisme haruslah selalu dipupuk dan dikembangkan dalam setiap jiwa insan bangsa Indonesia. Sebagai contoh, penulis yang saat itu adalah CEO sebuah perusahaan penerbangan terkenal terkemuka di Jerman, rela meninggalkan semuanya dan bersama keluarga kembali ke Indonesia tercinta untuk tujuan mulia mengabdi dan mengembangkan negara tercinta dengan ilmu yang didapatkan dengan daya upaya sendiri.Nampak pula peran maksimal seorang istri bagi Habibie dalam semua aktivitas barunya. Seorang tokoh teknologi yang menjadi tokoh politik, presiden ketiga Republik Indonesia. Oleh sebab itu, sangatlah pantas jika dalam pidatonya dalam tiap kesempatan (penghargaan teknologi, penganugerahan gelar, dsb) sering Habibie menyampaikan bahwa di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan istri.

    Di akhir cerita, tergambar dengan jelas keterkaitan Habibie Ainun satu sama lainnya. Keduanya saling menjaga mendoakan yang terbaik bagi masing-masing. Ada kejadian yang menurut saya sangat menyentuh yaitu ketika Ibu Ainun di ICCU, Pak Habibie yang telah menjadi kebiasaan pukul 10 pagi selalu tiba di ICCU pada hari itu harus terlambat datang karena dilarang masuk sebab tim dokter sedang melalukan operasi mendadak. Ketika Habibie akhirnya masuk 2 jam kemudian, didapatinya Ainun sedang menangis. Kenapa? Karena khawatir terjadi sesuatu dengan Habibie sebab dia terlambat datang. Sungguh indah bukan. Kedua sangat memperhatikan kondisi masing-masing, meskipun dalam keadaan sehat atau sakit. Akhinya Ainun (72) menghembuskan nafas terakhirnya karena komplikasi penyakit pada 22 Mei 2010. Habibie menghitung masa hidup bersama Ainun, sejak menikah pada 12 Mei 1962, selama 48 tahun 10 hari.

    Terakhir akan saya cantumkan doa Habibie untuk Ainun yang telah berpindah ke alam dan dimensi baru.
    Terima kasih Allah, ENGKAU telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya

    Terima kasih Allah, Engkau sudah mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya

    Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, ENGKAU titipi kami bibit Cinta yang Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi melekat pada diri Ainun dan saya

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta kami ini dengan kasih saying nilai Iman, Takwa, dan budaya kami tiap saat sepanjang masa

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah menikahkan Ainun dan Saya sebagai Suami Isteri tak terpisahkan di mana pun kami berada sepanjang masa

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah perkenankan Ainun dan Saya bernaung dan berlindung di bawah bibit cinta titipanMU ini di mana pun kami berada, sepanjang masa sampai Akhirat

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami dapat menyaksikan, merasakan, menikmati, dan mengalami TitipanMU menjadi Cinta yang Paling Murni, Paling Suci, paling Sejati, Paling Sempurna, dan Paling Abadi di seluruh Alam Semesta dan sifat ini hanya dapat dimiliki oleh ENGKAU Allah

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah menjadikan Ainun dan Saya Manunggal Jiwa, Roh, Batin, dan Nurani kami melekat pada Diri Kami sepanjang masa di mana pun Kami berada

    Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan terjadi sebelum Ainun dan Saya tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 untuk sementara dipisahkan. Ainun berada dalam Alam Baru dan saya untuk sementara masih di Alam Dunia

    Terima kasih Allah, perpisahan kami berlangsung damai, tenang, dan khidmat dengan keyakinan bahwa KebijaksanaanMU adalah terbaik untuk Ainun dan Saya

    Berilah Ainun dan Saya petunjuk mengambil jalan yang benar, Kekuatan untuk mengatasi apa yang sedang dan akan Kami hadapi di manapun Kami berada

    Lindungilah Ainun dan Saya dari segala Gangguan, Ancaman, dan Godaan yang dapat mencemari Cinta, Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi kami, sepanjang masa.” Amien.

    – B. J. Habibie –

    ,

    Review buku “Menyemai Kreator Peradaban” karya M. NUH
    Oleh : Arikha Faizal Ridho

    Bismillahirrahmanirrahim.
                Firman Allah dalam kitab suci Al-qur’an sudah pernah menyindir “...tidaklah sama kdudukan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu”. Ilmu akan senantiasa menjadi cahaya bagi para pemilik nya, baik cahaya di dunia maupun cahaya di akhirat. Orang yang hidup di dunia ini tanpa bekal ilmu dia bagaikan orang yang berjalan di dalam kegelapan tanpa mempunyai cahaya digenggamannya. Dengan keadaan demikian pastilah dia akan tersesat kepada arah yang tidak pasti dan tidak akan sampai pada tujuan perjalanannya. Begitupan manusia, jika dalam hidupnya manusia tidak membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dia akan terombang ambing dengan tujuan yang tidak jelas dan adanya dia menjadi tidak berarti bagi lingkungannya , dalam bahasa jawa bisa diistilahkan “poko’e urip”.Bahkan lebih ekstrim lagi ada ulama yang mengatakan orang yang berjalan di muka bumi tanpa ilmu sebenarnya orang tersebut telah mati sebelum ajalnya datang.

                Keadaan yang demikian juga berlaku bagi sebuah bangsa, maju mundurnya sebuah peradaban bangsa juga ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan. Sejarah telah membuktikan runtuhnya peradaban islam di eropa 1099 M  pada perang salib adalah karena ketika itu islam belum mempunyai budaya keilmuan yang bagus, sehingga dengan mudah pasukan kristen meruntuhkan peradaban islam, namun titik balik terjadi sekitar 80 tahun kemudian dengan mulai adanya perbaikan keilmuan yang dipelopori oleh Al ghazali hingga memunculka tokoh fenomenal bernama Shalhudin Al ayubi yang berhasil meruntuhkan kedigdayaan kerajaan Romawi. Salah satu kunci suksesnya adalah perbaikan keilmuan islam pada waktu itu.
                Dalam dunia kekinian, penguasaan keilmuan juga menjadi kunci sukses kemajuan sebuah negara. Banyak negara maju di dunia yang di dalamnya tidak di anugerahi sumberdaya alam yang melimpah, tetapi karena mempunyai budaya keilmuan yang baik negara tersebut mampu tampil menjadi pemenang dalam persaingan global. Sebaliknya negara yang dianugerahi sumber daya alam yang melimpah tetapi keilmuannya tidak maju, negara tersebut juga akan menemui kegagalan dalam memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, malahan SDA tersebut akan dimanfaatkan dan dieksploitasi negara lain.
                Fakta-fakta diatas menunjukkan peranan signifikan dari ilmu pengetahuan dalam membagun sebuah peradaban. Maka sungguh tepat ketika Muhammad Nuh dalam salah satu bagian bukunya megutip syair klasik dari kitab Ta’limul Muta’alim ,yang artinya :
    “Belajarlah, karena ilmu itu hiasan bagi pemiliknya
    Ilmu adalah tanda keutamaan dan tanda orang yang terpuji
    Jadikan dirimu bermanfaat, setiap hari bertambah ilmu
    Arungilah Samudera faedah”

                Saking pentingnya kedudukan ilmu dalam kehidupan, Rasulullah SAW sampai berpesan kepada umatnya “Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim baik laki-laki ataupun perempuan”.Hal ini membuktikan bahwasannya islam sangat paham akan kedudukan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang benar akan menuntun manusia lebih dekat kepada Allah Swt sang pencipta alam semesta. Sehingga selain mewajibkan meuntut ilmu islam juga menjelaskan bahwasannya kewajiban menuntut ilmu ini berlaku sepanjang masa bukan hanya melalui institusi sekolah saja. Kewajiban itu berlangsung dari belaian sampai masuk ke liang lahat atau mati. Sehingga  sangat tepat jika pak Nuh mengatakan bahwa institusi sekolah hanya berperan sebesar 30% dalam proses  pendidikan anak selebihnya proses pendidikan karakter anak akan terbentuk melalui keluarga dan lingkungan masyarakat.
       Jadi, darisini kita dapat menyimpulkan bahwasannya pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan melalui lembaga pendidikan saja tetapi yang terpenting adalah bagaimana pendidikan ini bisa diarahkan untuk membangun akhlaq manusia sekaligus menambah pengetahuannya melalui ketiga institusi diatas. Pendidikan yang demikian adalah konsep pendidikan yang shahih yang biasa disebut ta’dib  bukan sekedar ta’lim . Konsep ta’dib ini sangat urgent untuk diterapkan mengingat sekarang manusia sedang hiidup di jaman yang menurut allatas disebut proses the loss of adab. Era ini ditandai dengan semakin dikuasainya ilmu pengetahuan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan pengamalan akhlaq dalam kehidupan sehari-hari, baik akhlaq kepada Allah Swt, Manusia maupu kepada alam semesta, sehingga kemajuan ilmu pengetahuan itu malah membawa efek negatif pada kehancuran alam semesta. Faktanya, ditegah kemajuan industri hutan menjadi korban penggundulan dan pembakaran, ditengah kemajuan politik korupsi semakin merajalela, dan masih banyak kasus yang memperlihatkan rusaknya adab manusia ditengah kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan demikian pendidikan dengan paradigma ta’dib ini menjadi penting untuk diterapkan dengan melibatkan ketiga institusi pembentuk karakter diatas.
    Maka dengan penerapan sistem pendidikan berbasis adab tersebut diharapkan akan menghasilkan generasi generasi emas Indonesia yang senantiasa mengamalkan ilmu pengetahuan yang diketahuinya . Hal ini penting, karena “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan “ dan ”Buahnya ilmu akan kelihatan ketika ilmu itu diamalkan”.Menurut pak Nuh saat ini Indonesia sedang diberikan rahmat oleh Allah Swt dengan memiliki jumlah penduduk produktif yang besar sampai dengan tahun 2035,fenomena ini biasa disebut dengan bonus demografi. Untuk itulah perlu disiapkan pendidikan yang baik bagi calon generasi emas Indonesia supaya situasi itu benar-benar menjadi bonus demografi yang menjadi kado indah bagi 100 tahun kemerdekaan Indonesia bukan malah menjadi bencana demografi karena kegagalan dalam mendidik generasi produktif Inndonesia. Sungguh situasi ini sangat relevan dengan apa yang digambarkan Rasulullah SAW :
    Barang siapa megingikan kebahagian hidup di dunia maka harus dengan ilmu
    Barang siapa ingin memiliki kebahagiaan hidup di Akhirat maka harus dengan ilmu
    Dan Barang siapa menginginkan kebahagiaan pada keduanya maka harus dengan ilmu


    Sungguh, itulah hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada Indonesia pada 100 tahun kemerdekaannya kelak(2045) yakni dengan dengan meninggalkan generasi yang berilmu dan beradab . Pak Nuh melalui bukunya ini telah menyumbangkan pemikiran yang luar biasa dalam ranngka mewujudkan generasi emas tersebut. Dalam menulis buku ini beliau membingkai segala macam nasihatnya dengan pola pikir Qur’ani  dengan disertai pengalaman beliau ketika menjadi peserta didik, pendidik, pengelola lembaga pendidikan hingga menjadi pendidikan. Tentu saja pemikiran dengan dasar yang luar biasa itu sangat membumi dan bisa diamalkan oleh siapa pun. Terima kasih pak Nuh, semoga buku ini bisa menjadi amal bagi beliau yang akan diterima Allah Swt . Wallahu’alam bissawab


Top