, , ,


    Perbaiki Shalat, Jangan Turuti Syahwat
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
    فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ  (  فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ÇÎÒÈ
    “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan menuruti syahwat. Maka mereka (pengganti) itu kelak akan menemui ghoyyun.” (QS. Maryam: 59)
    Yang dimaksud ‘pengganti’ adalah ‘generasi akhir zaman’. ‘Menyia-nyiakan shalat’ berarti ‘meninggalkan shalat fardlu’. ‘Menuruti syahwat’ berarti ‘melakukan berbagai ma’siat, tidak melaksanakan perintah Allah dan melanggar larangan Allah’. Sedangkan ‘ghoyyun’  bermakna ‘kerugian di akhirat’ atau ‘sebuah jurang di neraka’. (lihat tafsir Ibnu Katsir)
    Ketika Shalat Disia-siakan
    Sebuah survey yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama Goethe Institute di 33 provinsi di Indonesia pada bulan November 2010. Diantara hasil survei tersebut adalah bahwa kaum muda Islam yang selalu menunaikan shalat 5 waktu (28,7 persen), yang sering shalat 5 waktu (30,2 persen), yang kadang-kadang shalat 5 waktu (39,7 persen), yang tidak pernah shalat 5 waktu (1,2 persen).
    Survey tersebut memperlihatkan bahwa kaum muda Islam yang senantiasa melaksanakan shalat fardlu hanya 28,7 persen dan sisanya –mayoritas- tidak selalu menunaikan shalat fardlu lima waktu alias shalatnya bolong. Padahal shalat fardlu adalah tiang agama. Jika rusak shalat fardlunya, rusaklah agamanya.
    Pokok semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad” (HR. Imam Ahmad, 5/231, dan Imam at-Tirmidzi, 2/1314)
    Dalam sebuah kesempatan Rasulullah menyampaikan: “Ada lima shalat yang telah Allah ta’ala wajibkan atas hamba-hambaNya, barangsiapa menunaikannya, tidak mengabaikannya dengan menyepelekan (meremehkan) kedudukannya, maka Allah berjanji untuk memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Imam Abu Dawud, 2/62)
    "(Malaikat penjaga neraka bertanya kepada penghuni neraka) Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)
    Menuruti Syahwat
    Apakah syahwat itu? Syahwat adalah hal-hal yang diingini, disukai, dan disenangi. Ada berbagai macam syahwat. Diantaranya adalah syahwat perut (makan, minum), syahwat farji (memegang, mencium lawan jenis, berhubungan seks), syahwat harta benda (uang, rumah, mobil), dan syahwat kekuasaan (menjadi pimpinan, dihormati, dimuliakan). Kata syahwat ini identik dengan kata ‘hawa’ (biasanya disebut hawa nafsu). Syahwat-syahwat ini harus dikendalikan, diatur dengan menggunakan wahyu dan akal agar senantiasa berada di wilayah ‘halal’, agar senantiasa mengikuti syariat Islam. Mengendalikan syahwat atau hawa nafsu merupakan sebuah kemuliaan dan pangkal dari berbagai macam kebaikan.
    “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)". (QS. An-Nazi’at: 40-41).
    Sebaliknya, senantiasa menuruti syahwat (hawa nafsu) adalah sumber kerusakan dan kehinaan bagi manusia.
     “Hai Daud sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu maka ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Saad : 26)
    Perbaiki Shalat, Jangan Turuti Syahwat
    Ayat 59 surat Maryam di atas mengisyaratkan bahwa kebiasaan ‘menyia-nyiakan shalat’ sangat erat kaitannya dengan ‘menuruti syahwat’. Orang yang menyia-nyiakan shalat biasanya cenderung menuruti syahwat. Orang yang menyia-nyiakan shalat berarti tidak memiliki rasa takut kepada Allah ta’ala, keyakinannya kepada Allah dan hari akhir sangat tipis, dan jauh dari Allah ta’ala. Orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah tentu lebih cenderung menuruti keinginan hawa nafsunya.
    “….. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…..” (QS. Al-Ankabut: 45)
    Begitu juga orang yang mempunyai kebiasaan menuruti syahwat, biasanya cenderung menyia-nyiakan shalat. Bukankah syahwat manusia itu cenderung lebih menyukai hal-hal yang enak dan mudah? Padahal menjaga shalat fardlu itu merupakan sesuatu yang berat.
    Kebiasaan menyia-nyiakan shalat dan menuruti syahwat ini sangat berbahaya karena menyebabkan pelakunya berada di dalam kesesatan, menjadi budak hawa nafsu, semakin jauh dari Allah ta’ala, dan akhirnya menderita di neraka. Oleh karena itu, marilah kita dan keluarga kita berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa memperbaiki shalat dan tidak menuruti syahwat. Agar kita sekeluarga tidak berada di dalam kesesatan yang ujungnya adalah neraka jahannam. Na’udzu billah min dzalik.
    Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki shalat:
    1.   Aqimu ash-ashalat (tegakkan shalat). Artinya penuhi syarat dan rukun shalat. Perbaiki bacaan dan gerakan shalat. Bacaannya yang benar dan jelas. Gerakannya yang benar dan tuma’ninah.
    2.   Haafidhu... (jagalah shalat). Artinya jagalah shalat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan shalat di awal waktu. Jangan menunda shalat.
    3.   Khoosyi’un... (shalat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika shalat. Saat melaksanakan shalat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Allah ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan shalat.
    4.   Daaimun... (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan shalat. Jangan sampai bolong.
    Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan shalat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar shalat kita diterima. Lagi pula, bukankah shalat berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan selisih 27 derajat?
    Selanjutnya, marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan syahwat atau hawa nafsu kita dengan berbagai cara, diantaranya:
    1.   Senantiasa gunakan syariat dan akal sehat untuk mempertimbangkan keinginan kita.
    Jika syahwat kita mengajak kita untuk melakukan suatu hal, hendaknya kita konsultasikan dulu kepada syariat dan akal sehat. Apakah hal itu halal atau haram? Apakah hal itu bermanfaat di dunia dan akhirat atau malah membahayakan?
    Untuk itu kita perlu terus -menerus belajar ilmu-ilmu agama Islam, baik secara langsung kepada kiai atau ustadz maupun dengan membaca buku-buku agama.
    2.   Berpuasa sunnah
    Dengan berpuasa kita berlatih untuk mengendalikan syahwat atau keinginan-keinginan kita.
    “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat menjadi perisai baginya.” (Muttafaq Alaihi)
    3.   Memperbaiki hubungan dengan Allah ta’ala dengan memperbaiki shalat, membaca dan mentadabburi al-Qur`an, membiasakan diri berbuat kebaikan, memberi manfaat kepada orang lain, serta memperbanyak dzikrullah.
    Jika hubungan kita dengan Allah ta’ala baik, insyaallah Dia kan senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita diberi kemampuan untuk mengendalikan syahwat atau hawa nafsu kita.      
    Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita sekeluarga sehingga kita sekeluarga senantiasa mampu untuk menjaga dan memperbaiki shalat serta mengendalikan syahwat. Amin.
    Wallahu a’lam bish-shawab
    [M. Tajuddin, S.Hum.]

    , ,






    , , , ,




    Adab Para Pencari Ilmu (2)
    [Adab Muta’allim]


    Memaksimalkan Masa Muda untuk Belajar
    Masa muda adalah waktu luang bagi seseorang.Ia belum tersibukkan dengan berbagai macam urusan keluarga seperti mengurus istri, bekerja mencari nafkah, dan mengurus anak.
    Imam Abu Hanifah berkata,
    “….. carilah ilmu terlebih dahulu, lalu kumpulkanlah harta yang halal, kemudian menikahlah. Sebab, jika engkau sudah sibuk pada waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari ilmu, engkau pasti tidak akan dapat mencari ilmu.”
    Sebuah sya’ir dari Imam asy-Syafi’i
    وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَــةً    #    تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
    وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِــهِ     #    فَكَبّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِــهِ
    حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى      #    إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
    Barang siapa tidak pernah mencicipi pahitnya belajar sesaat # niscaya dia kan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hayat
    Barang siapa tidak belajar di masa mudanya # maka bertakbirlah empat kali untuk kematiannya
    Demi Allah, hidup pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa # jika keduanya tidak ada, hidup pemuda tiada artinya

    Memilih Ilmu, Guru, dan Teman
    Penuntut ilmu hendaklah memilih ilmu yang terbagus, mendahulukan ilmu yang diperlukan dalam agama di saat ini.Hendaklah dia memprioritaskan ilmu tauhid, ilmu mengenal Allah ta’ala dan memilih ilmu yang kuna, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Nabi , para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in (generasi salaf).
    Diriwayatkan sebuah hadits:
    الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ وَمَا سِوَى ذلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ; ايَةٌ مُحْكَمَةٌ اَوْسُنَّةٌ قَائِمَةٌ اَوْفَرِيْضَةٌ عَادِلَةٌ 
    رواه الإمام أبو داود في سننه (2885) ، وابن ماجه (53)
    “Pokok ilmu itu ada tiga. Selainya adalah tambahan. Ayat muhkamat, sunnah yang tegak, dan ilmu faroidl”.

    Imam asy-Syafi’i mengatakan:
    الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمُ الْفِقْهِ لِلْأَدْيَانِ وَعِلْمُ الطّبّ لِلْأَبْدَانِ وَمَا وَرَاءَ ذلِكَ بُلْغَةُ مَجْلِسٍ
    “Ilmu (yang pokok) itu ada dua; ilmu fiqih untuk agama dan ilmu kedokteran (kesehatan) untuk badan. Selain dua itu adalah bahan perbincangan saja.”

    Guru yang dipilih adalah yang lebih alim, lebih waro’, lebih sepuh, berakhlaq mulia, dan yang memiliki sanad keilmuan yang sambung kepada Rasulullah .
    Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i berkata:
     ( مثل الذي يطلب الحديث بلا إسناد كمثل حاطب ليل يحمل حزمة حطب وفيه أفعى وهو لا يدري ! )
    “Perumpamaan orang yang mencari hadits tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar pada malam hari. Ia mengangkat seonggok kayu bakar yang di dalamnya ada ular berbisa dan dia tidak mengetahuinya”.
    Muhammad bin Sirin (seorang pembesar ulama tabi’in) berkata :
    إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
    ”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian.” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya]
    Ada sebuah hikmah dikatakan
    (الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَلَاعِلْمَ إِلَّا مِنْ عَالِمٍ رَبَّانِيّ)
    “Ilmu itu (didapatkan) dengan belajar.Dan tidak ada ilmu kecuali dari guru yang robbaniy (yang bisa mengantarkan murid kepada Allah ta’ala, yang istiqomah, ikhlash, tawadlu’, dan memiliki sanad keilmuan yang terpercaya).”
    Kalau sekedar pinter, Mbah Google jauh lebih pinter.
    Pencari ilmu hendaknya memilih teman yang tekun, wira’i, berwatak jujur, cerdas, dan mudah memahami masalah.Dan jauhilah pemalas, pengangguran, orang yang cerewet, suka mengacau dan suka menebar fitnah.
    Rasulullah bersabda:
    (مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة)
    “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah bagaikan penjual minyak misik dan pandai besi. Penjual minyak misik adakalanya dia memberimu minyak misik, atau kamu membeli minyak misik darinya, atau kamu mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi adakalanya dia membakar bajumu, atau kamu memperoleh bau tidak enak (bau gosong) darinya”. (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
    Ada sebuah hikmah dari Persia:
    Kawan yang jahat lebih berbahaya daripada ular berbisa
    Demi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci
    Kawan yang jahat menyeretmu ke neraka Jahim
    Ambillah kawan yang bagus
    Dia mengajakmu ke sorga Na’im
     Mengagungkan Ilmu
    Pencari ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaat dari ilmu kecuali dengan mengagungkan ilmu dan menghormati ahli ilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Diantara bentuk mengagungkan ilmu adalah lebih memprioritaskan ilmu daripada harta, memakai pakaian yang bersih, rapi dan wangi ketika belajar dan mengajar, membawa bekal buku untuk dibaca di setiap waktu, selalu membawa buku tulis dan pena, serta senantiasa bersikap sungguh-sungguh di dalam belajar. Termasuk mengagungkan ilmu adalah menghormati guru, memulyakan kitab, dan menghormati teman belajar.
    -       Menghormati Guru
    Diantara bentuk penghormatan kepada guru adalah memahami hak dan kedudukan guru, melayani keperluan beliau, tidak melintas di hadapan beliau, tidak menduduki tempat duduk khusus beliau, tidak memulai berbicara kecuali atas izin beliau, tidak mengganggu beliau, tidak menjulurkan kaki ke arah beliau, sabar menanti menunggu beliau. Intinya adalah mencari ridlo guru, menghindari murka beliau, senantiasa berhusnu-dzon kepada beliau dan mentaati perintah beliau.
    Barangsiapa melukai hati gurunya, maka tertutuplah keberkahan ilmunya dan hanya sedikit manfaat ilmu yang dapat dipetiknya.
    Seorang pelajar wajib mendoakan gurunya setiap hari setelah shalat, disamping berdoa untuk dirinya sendiri dan orang tuanya.Karena hak guru sama dengan orang tua, bahkan lebih. Orang tua memenuhi kebutuhan jasmani, sementara guru memenuhi kebutuhan ruhani.
    -       Memulyakan Kitab
    Pelajar hendaknya senantiasa dalam keadaan suci ketika memegang kitab.Ilmu adalah nur, dan wudlu adalah juga nur.Dengan nur wudlu, nur ilmu menjadi semakin cemerlang.
    Hendaknya tidak menjulurkan kaki ke arah kitab, menaruh kitab di tempat yang layak, meletakkan kitab tafsir di atas kitab-kitab yang lain, dan tidak meletakkan barang apa pun di atas kitab. Selain itu pelajar hendaklah memperbaiki tulisan, tidak mencorat-coret kitab dengan tulisan yang tidak jelas, serta menjaga kebersihan dan daya tahan kitab, misalnya dengan cara menyampulinya.
    -       Menghormati Teman
    Pencari ilmu semestinya menghormati teman belajarnya dengan cara berbuat baik kepadanya dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti hatinya.
    Membuat Catatan
    Tidak bisa tidak. Penuntut ilmu wajib memiliki catatan yang ia tulis setelah menghafal dan memahami suatu bagian dari ilmu. Ilmu itu ibarat binatang buruan dan catatan adalah tali pengikatnya.
    Jangan menulis sesuatu yang belum dipahami karena dapat menumpulkan akal, menghilangkan kecerdasan, dan membuang-buang waktu.
    Berdoa
    Pencari ilmu wajib senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala dengan merendahkan diri kepada-Nya, agar diberi manfaat dalam setiap ilmu yang dipelajari, diajari ilmu yang bermanfaat, dan diberi tambahan ilmu.Sesungguhnya Dia lah sumber dari segala sumber ilmu, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, yang mengajari manusia apa-apa yang tidak mereka ketahui.
     Waro’ Pada Masa Belajar
    Waro’ adalah sikap hati-hati dan menjaga diri dari berbagai hal yang haram baik berupa perbuatan, perkataan, sandang, pangan, dan papan.Sedangkan waro’ yang sempurna adalah menjaga diri dari hal-hal yang tidak berguna menurut agama, baik itu berupa hal-hal yang mubah, makruh, apalagi yang subhat dan haram.
    Pelajar harus bersikap waro`.Ia harus menjaga dirinya agar tidak memakan sesuatu yang subhat dan haram. Karena makanan itu akan menjadi darah dan daging. Sementara akal dan hati yang tumbuh dari makanan yang haram tentu akan terhalang dari mendapatkan nur ilmu dari Allah ta’ala.
    Termasuk perbuatan waro’ adalah menghindari perut kenyang, kebanyakan tidur, dan obrolan yang tidak berguna.
    Menghiasi diri dengan adab dan sunnah
    Pencari ilmu hendaknya senantiasa menghiasi diri dengan adab dan sunnah. Semestinya penuntut ilmu tidak mengabaikan dan senantiasa mengamalkan adab-adab harian yang telah disebutkan di kitab-kitab adab.Seperti adab makan, tidur, adab di kamar mandi, keluar-masuk rumah, keluar-masuk masjid, adab di jalan, dll.
    Ada dikatakan: “Barangsiapa mengabaikan adab, maka ia akan terhalang dari yang sunnah. Barangsiapa mengabaikan sunnah, maka ia akan terhalang dari yang fardlu. Barangsiapa mengabaikan yang fardlu, maka ia akan terhalang dari akhirat.”
    Pencari ilmu hendaknyamemperbagus wudlu, mendawamkan qiyamullail, memperbanyak shalat-shalat sunnah, berusaha untuk khusyu’ di dalam shalat, istiqomah membaca al-Qur`an, membasahi lisan dengan dzikrullah, terutama istighfar dan shalawat, bershadaqah dan berpuasa sunnah.
     Penutup; Ilmu dan Khidmah
    Termasuk dari adab seorang pencari ilmu adalah hendaknya dia mendidik dirinya agar berkhidmah kepada ilmu dan ahli ilmu dengan niat ikhlash untuk mendapatkan ridlo Allah ta’ala.Dengan harapan agar mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu dan ahli ilmu.Berikut kami kutipkan sebuah kisah yang bersumber dari guru kami Abina K.H. M. Ihya’ Ulumiddin.Beliau adalah Khadimul Ma’had Nurul Haromain Pujon, sebuah pesantren yang telah banyak melahirkan kader-kader dakwah di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.Selain sebagai Aminul ‘Am Persyarikatan Dakwah al-Haromain Surabaya, beliau juga diamanahi sebagi ketua umum Hai’ah ash-Shofwah al-Malikiyah, himpunan alumni Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani di Indonesia.
    Ketika ada tamu yang bertanya kepada Abi Ihya' Ulumiddin, apa yang membuat Abi menjadi seperti sekarang? Tersenyum beberapa saat, kemudian Abi Ihya' menjawab:
    "Bisa jadi karena doa guru kami Abuya sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki ketika kami membersihkan sebuah kakus yang (maaf) penuh dengan kotoran manusia dengan menggunakan tangan...."
    Berawal ketika Abuya bepergian ke salah satu rumah beliau yang berada di Madinah.Ketika sampai di tempat, Abuya ingin membuang hajat.Dengan cepat Abi Ihya' Ulumiddin segera masuk ke rumah itu untuk mengecek apakah WC nya sudah bersih atau belum.Ketika masuk, ternyata kakusnya penuh dengan kotoran manusia.Karena memang rumah tersebut lama dalam keadaan kosong.Tanpa berpikir panjang, Abi Ihya' Ulumiddin segera mengambil kotorannya dengan menggunakan tangan. Mengetahui hal tersebut Abuya berkata: "Barokallahu fiik...barokallahu fiik...barokallahu fiik..."
    Selama nyantri kepada abuya sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki, Abi Ihya' Ulumiddin berkhidmah sebagai orang yang menyiapkan kebutuhan temannya untuk sarapan. Mulai dari menyusun menu, belanja keluar sampai menyiapkannya.Selepas selesai tugasnya, Abi Ihya' Ulumiddin membangunkan teman-temannya untuk ta'lim kepada Abuya.Hal itu dilakukan selama Abi Ihya' "mondok" disana.
    Inilah salah satu kunci keberkahan dalam mencari ilmu. Karena jika hanya mencari ilmu saja tidak akan pernah cukup, harus dibarengi dengan khidmah....dikatakan "al ilmu yudrok wal khidmatu la tudrok"


    Daftar Pustaka
    1.    Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, K.H. Hasyim Asy’ari
    2.    Ta’lim al-Muta’allim, Syeikh az-Zarnujiy
    3.    Fathu al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahdzibi at-Targhib wa at-Tarhib, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani
    4.    Ihya’ Ulumiddin, al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali
    5.    Bidayah al-Hidayah, al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali


       Muhtar Tajuddin, Sekretaris Pesma Baitul Hikmah.

    , ,


    Surat Keputusan
    No: 132/YPMBH/VIII/2016

    Menimbang : 
    - Hasil tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2015/2016 yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 29 Agustus 2016.

    Memperhatikan :
    - Rapat team Penguji Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya pada hari Kamis 21 September 2015.

    Memutuskan :
    1. Nama-nama yang terlampir berikut dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2016/2017

    2. Nama-nama yang terlampir berikut diharuskan melakukan konfirmasi kepada Pengurus Pesma Baitul Hikmah melalui sms ke nomor 08563463503 paling lambat tanggal 28 September 2016 pukul 17.00 WIB

    format SMS:
    "Bismillahirrohmanirrohim, saya (ketik nama lengkap), dari (ketik alamat lengkap) SIAP menjadi SANTRI Pesma Baitul Hikmah Surabaya"


    Berikut nama-nama yang dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah TA. 2016/2017

    1. Ahmad Syifa` Mahbubi
    2. Tri Irvan Haryadi



    Surabaya, 21 September 2016

    Mudir al Ma'had
    Yayasan Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Ustadz M. Masykur Ismail, S.S.


    NB: - untuk Informasi lebih lanjut hubungi contact person Panitia Penerimaan Santri Baru Pesma Baitul Hikmah TA. 2016/2017, 


    Mas Tije (08563463503)

    , , , ,



    Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya membuka pendaftaran santri baru untuk angkatan 2016/2017 Gelombang II.

    Prosedur Pendaftaran
    1. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran** 
    2. Melengkapi persyaratan yang diperlukan
    3. Mengumpulkan formulir pendaftaran yang telah diisi dan persyaratan pendaftaran ke Sekretariat.
    4. Mengikuti tes seleksi (baca Al-Qur'an, baca Kitab, psikotes dan wawancara). * 
    5. Pengumuman hasil tes

    Syarat-Syarat Pendaftaran
    1. Mahasiswa Laki-laki
    2. Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB yang dilegalisir 1 lembar
    3. Menyerahkan fotokopi Nilai Ujian Nasional yang dilegalisir 1 lembar
    4. Menyerahkan fotokopi nilai rapor kelas 3 SMA semester 1 dan 2, 1 lembar
    5. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM 2 lembar
    6. Menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga 2 lembar
    7. Menyerahkan pas foto 4x6 2 lembar
    8. Menyerahkan surat pernyataan orang tua 1 lembar 

    Waktu Pendaftaran
    * 21-29 Agustus 2016

    Jadwal tes seleksi 
    Hari Senin, tanggal 29 Agustus 2016, pukul 15.30 wib
    Di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya
    **Formulir bisa diunduh di sini

    Info lebih lanjut, hubungi:
    Mas Tije (085 634 635 03), 

    Sekretariat: Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Jl. Gubeng Kertajaya 5D/22 Surabaya

    , , , , ,


    Surat Keputusan
    No: 131/YPMBH/VIII/2016

    Menimbang : 
    - Hasil tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2015/2016 yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 15 Agustus 2016.

    Memperhatikan :
    - Rapat team Penguji Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya pada hari Kamis 18 Agustus 2015.

    Memutuskan :
    1. Nama-nama yang terlampir berikut dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya TA. 2016/2017

    2. Nama-nama yang terlampir berikut diharuskan melakukan konfirmasi kepada Pengurus Pesma Baitul Hikmah melalui sms ke nomor 08563463503 paling lambat tanggal 26 Agustus 2015 pukul 17.00 WIB

    format SMS:
    "Bismillahirrohmanirrohim, saya (ketik nama lengkap), dari (ketik alamat lengkap) SIAP menjadi SANTRI Pesma Baitul Hikmah Surabaya"


    Berikut nama-nama yang dinyatakan lulus tes masuk Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah TA. 2016/2017

    1. A. Syukron Taufiq Shidqi
    2. Muhammad Abdul Haq
    3. Sholeh Hilmi Qosim
    4. Muhammad Dai Efendi




    Surabaya, 19 Agustus 2016

    Mudir al Ma'had
    Yayasan Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Ustadz M. Masykur Ismail, S.S.


    NB: - untuk Informasi lebih lanjut hubungi contact person Panitia Penerimaan Santri Baru Pesma Baitul Hikmah TA. 2016/2017, 
    Mas Tije (08563463503)

    , , , , ,



    Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya membuka pendaftaran santri baru untuk angkatan 2016/2017.

    Prosedur Pendaftaran
    1. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran** 
    2. Melengkapi persyaratan yang diperlukan
    3. Mengumpulkan formulir pendaftaran yang telah diisi dan persyaratan pendaftaran ke Sekretariat.
    4. Mengikuti tes seleksi (baca Al-Qur'an, psikotes dan wawancara). * 
    5. Pengumuman hasil tes

    Syarat-Syarat Pendaftaran
    1. Mahasiswa Laki-laki
    2. Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB yang dilegalisir 1 lembar
    3. Menyerahkan fotokopi Nilai Ujian Nasional yang dilegalisir 1 lembar
    4. Menyerahkan fotokopi nilai rapor kelas 3 SMA semester 1 dan 2, 1 lembar
    5. Menyerahkan fotokopi KTP dan KTM 2 lembar
    6. Menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga 2 lembar
    7. Menyerahkan pas foto 4x6 2 lembar
    8. Menyerahkan surat pernyataan orang tua 1 lembar 

    Waktu Pendaftaran
    * 1 - 14 Agustus 2016

    Jadwal tes seleksi 
    Hari Senin, tanggal 15 Agustus 2016, pukul 15.30 wib
    Di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya
    **Formulir bisa diunduh di sini

    Info lebih lanjut, hubungi:
    Mas Tije (085 634 635 03), 

    Sekretariat: Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah
    Jl. Gubeng Kertajaya 5D/22 Surabaya


Top